Soul

Bentuk Dukungan yang Diperlukan saat Memproses Duka Usai Kehilangan

Jakarta (KABARIN) - Kehilangan orang tersayang memang bukan hal yang mudah. Proses berduka atau grieving pun bisa terasa berat dan berbeda-beda bagi setiap orang. Psikolog anak, remaja, dan keluarga Sani Budiantini Hermawan menekankan pentingnya dukungan yang tepat agar proses ini bisa dilalui dengan lebih sehat.

Menurut Sani, kunci utama dalam menghadapi duka adalah memahami diri sendiri. Dengan begitu, kamu bisa lebih tahu bagaimana cara memproses emosi yang muncul.

“Memproses kedukaan terhadap diri kita karena biasanya semakin kita memahami diri kita, semakin baik dibanding kalau kita enggak memahami diri jadi kita juga enggak tahu bagaimana cara memprosesnya dan sebagainya,” kata Sani saat dihubungi dari Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan, saat berduka seseorang bisa merasakan berbagai emosi yang datang silih berganti, mulai dari rasa rindu, kehilangan, hingga penyesalan atas hal-hal yang belum sempat dilakukan. Emosi seperti sedih dan marah juga bisa muncul bersamaan, bahkan berulang.

Menariknya, proses duka tidak selalu muncul langsung. Ada kondisi yang disebut delay effect, di mana seseorang terlihat baik-baik saja di awal, tapi justru merasakan duka yang lebih kuat di kemudian hari.

Karena itu, Sani menyarankan agar dukungan profesional seperti psikolog sebaiknya sudah dipertimbangkan sejak awal, terutama jika kehilangan terjadi secara mendadak, misalnya karena kecelakaan.

“Mestinya sih dari awal ketika orang dicintai itu sudah meninggal karena tadi, mendadak karena kecelakaan misalnya, perlu sekali ke psikolog untuk antisipasi, memahami bagaimana proses kedukaan yang efektif buat setiap orang karena berbeda,” imbuh dia.

Selain bantuan profesional, dukungan dari orang sekitar juga punya peran besar. Cara paling sederhana tapi penting adalah dengan hadir dan mendengarkan tanpa menghakimi.

Sani menekankan bahwa empati bisa ditunjukkan dengan memberi ruang bagi seseorang untuk bercerita dan mengekspresikan perasaannya. Bahkan hal-hal kecil seperti mengenang sosok yang telah pergi juga bisa membantu.

“Berempati itu kan lebih ke arah mendengarkan, bercerita-cerita tentang orang dikasih-nya selama hidup, kita dengarkan, berikan apresiasi terhadap misalnya si almarhum ternyata sebagai ibu yang hebat atau sebagai karyawan yang berprestasi,” kata dia.

Ia juga mengingatkan agar tidak memberi label negatif pada orang yang sedang berduka. Menangis, merasa sedih berkepanjangan, atau sulit tidur adalah hal yang wajar dalam proses tersebut.

“Ketika setiap orang bisa mengeluarkan ekspresinya melalui tangisan misalnya, itu wajar dan sah-sah saja. Bukan berarti dia tidak beriman dan sebagainya. Ini yang menurut saya perlu juga orang di sekitarnya mendukung proses kedukaan sehingga jadi lebih optimal,” ujar Sani.

Pada akhirnya, proses berduka bukan sesuatu yang bisa dipaksakan cepat selesai. Lewat dukungan yang tepat dan ruang untuk mengekspresikan emosi, proses ini bisa berjalan lebih sehat dan membantu seseorang perlahan bangkit kembali.

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: